Apa yang membuatku galau di usia dua dekade menjelang seperempat abad ini? Adalah aku yang masih memiliki lautan impian, tapi tak berani mengambil risiko untuk mengarunginya. Kegalauan masa muda menjelang tua, yang sebenarnya sedikit terlambat dan bisa berakibat terlambat sama sekali. Aku sudah mendapat kehidupan yang mungkin menyenangkan di mata orang lain yang juga kudapatkan dengan penuh air mata. Namun itu kupilih karena keadaan, bukan tegak berdiri karena hati kecilku yang mendirikannya. Adalah logika yang bertanggung jawab untuk memaksaku membentuk pilihan-pilihan lain. Namun impian sejatiku masih mengusik haluan hidupku.
Telah jauh kutempuh perjalanan, meninggalkan usia 17 tahun. Usia dimana aku masih bebas berteriak, berlari, mengejar apa saja. Usia dimana asa dan cita bisa kuwujudkan dengan mudah. Padahal di usia itu, aku bercita-cita menjadi seorang dokter, ya seorang dokter! Aku ingin menjadi seorang dokter bedah! Aku kagum dengan kecepatan dan kemahiran tangan-tangan mereka dalam mengurai tubuh-tubuh pasiennya, menolong orang yang membutuhkan bantuan mereka, dan membantu kesembuhan banyak manusia. Aku sudah mengagumi mereka sejak kecil. Ya aku mengakuinya! Aku tidak ingin bersembunyi dari egoku sekarang! Dengarlah egoku, aku mengakui bahwa aku masih ingin menjadi dokter!
Sayang, sudah 6 tahun ini, impian itu mulai samar dari kacamata kehidupanku. Kenyataan-kenyataan kehidupan telah menjadi embun yang memburamkan di permukaannya. Semakin dekat kesini, semakin hilang kenangan akan ingatan itu, dan semakin perih rasa kehilangannya. Aku selalu merasa iri, ketika melihat orang-orang yang sebayaku yang telah menjadi dokter. Entah itu mimpi mereka sendiri atau mimpi orang tua mereka, yang jelas mereka tinggal selangkah lagi mendekati mimpiku menjadi dokter bedah. Tidak! Ingin rasanya aku pulang ke kenangan itu dan berjuang merajut langkahku sendiri menjadi dokter. Tidak akan ada kata malas, tidak akan ada kata menyerah, tidak akan ada kata tidak berhasil, aku akan dan harus menuntaskannya. Ya aku akan menjemput impian!
Aku ingin namun aku tak sanggup di saat itu. Terlalu banyak logika menawarkan dusta-dusta alasan yang aku tak kuasa menampiknya. Mulai dari alasan biaya hingga alasan sekolah yang membutuhkan waktu yang lama. Tak pelak pula, ayahku yang hanya tinggal seorang saat itu telah tua, dan aku tak tega melihatnya membiayaiku kuliah kedokteran yang pasti tidak sedikit. Namun, ia sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia tetap menyemangatiku untuk menjemput impianku. Ia bilang, ia siap mendukungku dengan semua yang ada untuk menjadikanku seorang dokter.
Sayangnya, aku terlalu kekanak-kanakan saat itu. Aku sendiri tidak memiliki tekat yang kuat. Aku terlalu asyik mendengarkan pendapat orang lain tentang pekerjaan dokter saat ini yang terkesan cari uang untuk balik modal, sulitnya mendapatkan pekerjaan jika bukan dari keluarga dokter, lamanya waktu sekolah, nepotisme di dalam profesi tersebut, dan sebagainya yang seakan mendesak mimpiku. Namun aku lupa, aku tidak melihat kedepan. Aku sendiri tidak berani untuk datang ke rumah sakit, bertanya kepada mereka yang sedang co-assistant di sana, bagaimana perjuangan mereka, apakah mereka dalam kondisi yang sama denganku atau lebih buruk denganku saat mereka memilih menjadi dokter. Aku mengakui, aku hanya mendengarkan orang-orang yang gagal, maka karena itu aku tidak berhasil menjadi dokter. Iya, aku bergaul dengan orang-orang yang gagal, maka aku ikut gagal!
Seharusnya aku memang hanya mendengarkan hatiku dan biarkan kakiku melangkah sendiri mengejar mimpiku. Seharusnya aku menjadi satu dengan mimpiku, mengarunginya, tidak peduli dengan semua kata-kata orang yang iri dan gagal. Aku seharusnya memecah prasasti kebingunganku saat itu, aku tidak boleh takut, dan aku harus berani. Aku akan berjuang keras, bahkan sekeras-kerasnya perjuanganku. Tanpa meremehkan, tanpa mendengarkan hal-hal yang tidak penting. Karena aku yakin, jika aku bertekat kuat, maka aku bisa. Jika itu terjadi, tentunya aku akan membuka hari-hariku saat ini dengan jas putihku. Tersenyum, berteriak pada hujan dan gerimis, aku kini menjadi dokter, kalian mau bilang apa, aku tidak peduli. Aku tetap tegak berdiri di atas mimpiku. Aku telah menjemput impian!
Sayangnya, itu tidak terjadi...
Dan kesempatan saat itu...
It was...
Dan mimpi itu saat ini, apakah masih bisa kuwujudkan saat ini?
Namun berjalannya waktu telah banyak mengurai makna. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan atas cerita yang ia tulis untukku selama ini. Aku bersyukur karena Ia menunjukkan bahwa dibalik mendung selalu ada segaris pelangi. Di balik gelapnya malam, selalu akan ada gemerlap bintang. Garis kehidupan yang kulalui memberikan banyak pelajaran hidup membawa sebentuk diri ini. Ya, lautan impian itu memang telah mengecil, hanya menjadi sungai kehidupanku yang sekarang. Walau aku tidak di laut yang kuinginkan, aku masih bisa meminum dari sungai yang kulalui saat ini.
Sekarang terserah padaku, Ia masih memberi pilihan, meneruskan mengarunginya atau berlari dan menemukan cara lain untuk kembali menggapai laut. Inilah yang harus kucari jawabnya, jawaban yang membuatku resah. Apakah aku harus berdamai dengan logika dan meneruskan langkah yang kutempuh sekarang dan menemukan puncaknya. Atau apakah aku harus berbalik ke belakang dan mencari cara menjadi dokter, tapi dengan kewajiban akan pekerjaanku sekarang dan kewajiban-kewajiban keuangan yang mendesakku, apakah aku bisa melaluinya? Tidak bisakah aku melalui keduanya sekaligus?
Itulah jawaban yang ingin cepat kutuntaskan saat ini...
(Tulisan ini adalah bagian pertama)