Adalah Surabaya, kota yang saat ini menjadi tempat "pelarian"-ku. Tetangga kota kelahiranku. Sudah 6 bulan bekerja disini. "Dimutasi ke Surabaya? Selamat ya!!!". Semua yang di kantor lama, mengurusi benda bersejarah itu, menyalamiku. Memberikan selamat. Merasa kehilangan. Tapi mungkin sebagian ada yang merasa iri. Mereka berharap segera mengikuti juga. Keluar dari "penjara waktu".
Setelah drama yang panjang, 40 hari penuh cobaan di bulan Maret dan April. Serasa berada di lembah neraka terdalam. Pantat soak, pacar tiba2 "hilang ingatan", tabungan terkuras untuk berobat, kuliah kocar-kacir, dan kerja gak masuk sebulan. Sampai terbesit pikiran, "mungkin ini semua hanya mimpi". Berkali-kali aku memukul wajahku, mencoba membangunkan diriku. Sakit, ini nyata. Tapi lebih sakit pantat ini, darahnya yang terus membasahi sprei. Aku juga berpikir, mungkin aku sudah mati, mungkin ini neraka. Oh, mungkin seperti inilah cara Tuhan mengadiliku. Atas segala dosa-dosa yang kuperbuat. Tidak adakah yang bisa membuatku terlepas dari neraka ini.
Wajahku memucat di kala itu. Dalam tiga minggu, tiga kali pula aku dibedah. Tanpa teman di kamar kos yang tak lebih besar dari toilet kantorku itu, aku tidak berani tidur. Darah terus keluar di perban yang dipasang di pantatku, aku takut besok aku tidak bangun lagi. Tidak, aku tidak mau. Aku masih harus hidup, aku belum menyelesaikan semuanya. Semua masalah itu harus kuselesaikan.
Peristiwa itu, mengingatkanku akan serial The Simpsons, episode "That's The 90's Show". Bangun tidur, dia yang membangunkan, sebelum tidur, dia pun yang memberikan selamat tidur. Semua kini berubah. Aku merasa sendiri. Tidak ada yang menemaniku. Diam, merenung, dan hanya bisa berdoa.
Hidup serasa begitu hancur, seperti sebuah lagu, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, tenggelam dalam lautan, dan tersesat, tak tahu arah jalan pulang. Ya, pulang. Satu kata yang selalu kuinginkan. Tiga tahun ini, yang selalu kuinginkan adalah pulang. Aku selalu berkhayal, akan enaknya pulang, hidup tenang bersama orang tua, menemani mereka, membantu mereka, berbakti pada mereka. Aku terus berkhayal, akan banyaknya hal-hal yang telah kulewatkan selama 7 tahun merantau. Tidak di rumah, dan sepertinya indah membangun hidup di rumah, di kota kelahiran. Dan satu-satunya jalan hanyalah Surabaya, ya, kota yang panas, tapi disitulah, aku bisa pulang.
Aku hanya bisa berdoa, aku berdoa, aku tidak berani tidur, aku hanya berdoa. Aku hanya berharap, ada keajaiban yang mengangkatku dari kejatuhan ini.
Doaku didengar. Aku mengajukan mutasi ke Surabaya. 2 bulan kemudian, terjawab. Surat mutasi itu keluar. Keajaiban. Khayalanku membawa keajaiban.
Aku berhasil pindah, kesehatanku membaik, pacarku ingatannya kembali, kuliahku berhasil kuselesaikan. Aku pindah kerja, kutemukan kehidupan baru di sini. Walau tak sempurna, tapi aku masih bisa tersenyum tiap hari bertemu orang tua, dan kemudian menikahi pacarku. Istriku. Ya, hidupku berubah 180 derajat, hanya dalam 6 bulan. 3 bulan pertama hancur total, 3 bulan berikutnya menemukan kebahagiaan luar biasa. Semua ini terjadi, karena ku berkhayal. Ya, berkhayal. Aku selalu berkhayal untuk pulang. Sambil berkhayal aku selalu berdoa, semoga menjadi nyata. Dan memang, aku mendapatkan cobaan dulu, yang teramat berat, tapi kemudian khayalanku dikabulkan. Aku pulang. Disini, aku sekarang, di atas gedung 6 lantai ini, menatap tugu pahlawan. Ya, aku dulu berkhayal, aku berdiri di sebuah gedung dan menatap menara yang tinggi. Aku mengalaminya, aku menatap monas, dan kini aku menatap tugu pahlawan. Allah memang penuh dengan misteri.
Kini, aku tidak takut lagi berkhayal. Berkhayal akan keberhasilan. Berkhayal akan kehidupan yang lebih baik. Mengkhayalkan memiliki seorang anak kecil lucu yang menjadi penerusku. Mengkhayalkan memiliki sebuah toko bangunan untuk orang tua. Mengkhayalkan menyekolahkan istriku dan mendirikan rumah sakit untuknya. Sambil berkhayal aku berdoa, semoga khayalanku menjadi kenyataan. Ya, inilah keajaiban hidup.