Adalah Surabaya, kota yang saat ini menjadi tempat "pelarian"-ku. Tetangga kota kelahiranku. Sudah 6 bulan bekerja disini. "Dimutasi ke Surabaya? Selamat ya!!!". Semua yang di kantor lama, mengurusi benda bersejarah itu, menyalamiku. Memberikan selamat. Merasa kehilangan. Tapi mungkin sebagian ada yang merasa iri. Mereka berharap segera mengikuti juga. Keluar dari "penjara waktu".
Setelah drama yang panjang, 40 hari penuh cobaan di bulan Maret dan April. Serasa berada di lembah neraka terdalam. Pantat soak, pacar tiba2 "hilang ingatan", tabungan terkuras untuk berobat, kuliah kocar-kacir, dan kerja gak masuk sebulan. Sampai terbesit pikiran, "mungkin ini semua hanya mimpi". Berkali-kali aku memukul wajahku, mencoba membangunkan diriku. Sakit, ini nyata. Tapi lebih sakit pantat ini, darahnya yang terus membasahi sprei. Aku juga berpikir, mungkin aku sudah mati, mungkin ini neraka. Oh, mungkin seperti inilah cara Tuhan mengadiliku. Atas segala dosa-dosa yang kuperbuat. Tidak adakah yang bisa membuatku terlepas dari neraka ini.
Wajahku memucat di kala itu. Dalam tiga minggu, tiga kali pula aku dibedah. Tanpa teman di kamar kos yang tak lebih besar dari toilet kantorku itu, aku tidak berani tidur. Darah terus keluar di perban yang dipasang di pantatku, aku takut besok aku tidak bangun lagi. Tidak, aku tidak mau. Aku masih harus hidup, aku belum menyelesaikan semuanya. Semua masalah itu harus kuselesaikan.
Peristiwa itu, mengingatkanku akan serial The Simpsons, episode "That's The 90's Show". Bangun tidur, dia yang membangunkan, sebelum tidur, dia pun yang memberikan selamat tidur. Semua kini berubah. Aku merasa sendiri. Tidak ada yang menemaniku. Diam, merenung, dan hanya bisa berdoa.
Hidup serasa begitu hancur, seperti sebuah lagu, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, tenggelam dalam lautan, dan tersesat, tak tahu arah jalan pulang. Ya, pulang. Satu kata yang selalu kuinginkan. Tiga tahun ini, yang selalu kuinginkan adalah pulang. Aku selalu berkhayal, akan enaknya pulang, hidup tenang bersama orang tua, menemani mereka, membantu mereka, berbakti pada mereka. Aku terus berkhayal, akan banyaknya hal-hal yang telah kulewatkan selama 7 tahun merantau. Tidak di rumah, dan sepertinya indah membangun hidup di rumah, di kota kelahiran. Dan satu-satunya jalan hanyalah Surabaya, ya, kota yang panas, tapi disitulah, aku bisa pulang.
Aku hanya bisa berdoa, aku berdoa, aku tidak berani tidur, aku hanya berdoa. Aku hanya berharap, ada keajaiban yang mengangkatku dari kejatuhan ini.
Doaku didengar. Aku mengajukan mutasi ke Surabaya. 2 bulan kemudian, terjawab. Surat mutasi itu keluar. Keajaiban. Khayalanku membawa keajaiban.
Aku berhasil pindah, kesehatanku membaik, pacarku ingatannya kembali, kuliahku berhasil kuselesaikan. Aku pindah kerja, kutemukan kehidupan baru di sini. Walau tak sempurna, tapi aku masih bisa tersenyum tiap hari bertemu orang tua, dan kemudian menikahi pacarku. Istriku. Ya, hidupku berubah 180 derajat, hanya dalam 6 bulan. 3 bulan pertama hancur total, 3 bulan berikutnya menemukan kebahagiaan luar biasa. Semua ini terjadi, karena ku berkhayal. Ya, berkhayal. Aku selalu berkhayal untuk pulang. Sambil berkhayal aku selalu berdoa, semoga menjadi nyata. Dan memang, aku mendapatkan cobaan dulu, yang teramat berat, tapi kemudian khayalanku dikabulkan. Aku pulang. Disini, aku sekarang, di atas gedung 6 lantai ini, menatap tugu pahlawan. Ya, aku dulu berkhayal, aku berdiri di sebuah gedung dan menatap menara yang tinggi. Aku mengalaminya, aku menatap monas, dan kini aku menatap tugu pahlawan. Allah memang penuh dengan misteri.
Kini, aku tidak takut lagi berkhayal. Berkhayal akan keberhasilan. Berkhayal akan kehidupan yang lebih baik. Mengkhayalkan memiliki seorang anak kecil lucu yang menjadi penerusku. Mengkhayalkan memiliki sebuah toko bangunan untuk orang tua. Mengkhayalkan menyekolahkan istriku dan mendirikan rumah sakit untuknya. Sambil berkhayal aku berdoa, semoga khayalanku menjadi kenyataan. Ya, inilah keajaiban hidup.
Renungan di Toilet
Renungan Tentang Berbagai Hal Dalam Kehidupan, Diceritakan Dari Toilet, Sebaiknya Jangan Di Baca Sambil Makan
Wednesday, November 21, 2012
Thursday, February 2, 2012
Menjemput Impian
Apa yang membuatku galau di usia dua dekade menjelang seperempat abad ini? Adalah aku yang masih memiliki lautan impian, tapi tak berani mengambil risiko untuk mengarunginya. Kegalauan masa muda menjelang tua, yang sebenarnya sedikit terlambat dan bisa berakibat terlambat sama sekali. Aku sudah mendapat kehidupan yang mungkin menyenangkan di mata orang lain yang juga kudapatkan dengan penuh air mata. Namun itu kupilih karena keadaan, bukan tegak berdiri karena hati kecilku yang mendirikannya. Adalah logika yang bertanggung jawab untuk memaksaku membentuk pilihan-pilihan lain. Namun impian sejatiku masih mengusik haluan hidupku.
Telah jauh kutempuh perjalanan, meninggalkan usia 17 tahun. Usia dimana aku masih bebas berteriak, berlari, mengejar apa saja. Usia dimana asa dan cita bisa kuwujudkan dengan mudah. Padahal di usia itu, aku bercita-cita menjadi seorang dokter, ya seorang dokter! Aku ingin menjadi seorang dokter bedah! Aku kagum dengan kecepatan dan kemahiran tangan-tangan mereka dalam mengurai tubuh-tubuh pasiennya, menolong orang yang membutuhkan bantuan mereka, dan membantu kesembuhan banyak manusia. Aku sudah mengagumi mereka sejak kecil. Ya aku mengakuinya! Aku tidak ingin bersembunyi dari egoku sekarang! Dengarlah egoku, aku mengakui bahwa aku masih ingin menjadi dokter!
Sayang, sudah 6 tahun ini, impian itu mulai samar dari kacamata kehidupanku. Kenyataan-kenyataan kehidupan telah menjadi embun yang memburamkan di permukaannya. Semakin dekat kesini, semakin hilang kenangan akan ingatan itu, dan semakin perih rasa kehilangannya. Aku selalu merasa iri, ketika melihat orang-orang yang sebayaku yang telah menjadi dokter. Entah itu mimpi mereka sendiri atau mimpi orang tua mereka, yang jelas mereka tinggal selangkah lagi mendekati mimpiku menjadi dokter bedah. Tidak! Ingin rasanya aku pulang ke kenangan itu dan berjuang merajut langkahku sendiri menjadi dokter. Tidak akan ada kata malas, tidak akan ada kata menyerah, tidak akan ada kata tidak berhasil, aku akan dan harus menuntaskannya. Ya aku akan menjemput impian!
Aku ingin namun aku tak sanggup di saat itu. Terlalu banyak logika menawarkan dusta-dusta alasan yang aku tak kuasa menampiknya. Mulai dari alasan biaya hingga alasan sekolah yang membutuhkan waktu yang lama. Tak pelak pula, ayahku yang hanya tinggal seorang saat itu telah tua, dan aku tak tega melihatnya membiayaiku kuliah kedokteran yang pasti tidak sedikit. Namun, ia sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia tetap menyemangatiku untuk menjemput impianku. Ia bilang, ia siap mendukungku dengan semua yang ada untuk menjadikanku seorang dokter.
Sayangnya, aku terlalu kekanak-kanakan saat itu. Aku sendiri tidak memiliki tekat yang kuat. Aku terlalu asyik mendengarkan pendapat orang lain tentang pekerjaan dokter saat ini yang terkesan cari uang untuk balik modal, sulitnya mendapatkan pekerjaan jika bukan dari keluarga dokter, lamanya waktu sekolah, nepotisme di dalam profesi tersebut, dan sebagainya yang seakan mendesak mimpiku. Namun aku lupa, aku tidak melihat kedepan. Aku sendiri tidak berani untuk datang ke rumah sakit, bertanya kepada mereka yang sedang co-assistant di sana, bagaimana perjuangan mereka, apakah mereka dalam kondisi yang sama denganku atau lebih buruk denganku saat mereka memilih menjadi dokter. Aku mengakui, aku hanya mendengarkan orang-orang yang gagal, maka karena itu aku tidak berhasil menjadi dokter. Iya, aku bergaul dengan orang-orang yang gagal, maka aku ikut gagal!
Seharusnya aku memang hanya mendengarkan hatiku dan biarkan kakiku melangkah sendiri mengejar mimpiku. Seharusnya aku menjadi satu dengan mimpiku, mengarunginya, tidak peduli dengan semua kata-kata orang yang iri dan gagal. Aku seharusnya memecah prasasti kebingunganku saat itu, aku tidak boleh takut, dan aku harus berani. Aku akan berjuang keras, bahkan sekeras-kerasnya perjuanganku. Tanpa meremehkan, tanpa mendengarkan hal-hal yang tidak penting. Karena aku yakin, jika aku bertekat kuat, maka aku bisa. Jika itu terjadi, tentunya aku akan membuka hari-hariku saat ini dengan jas putihku. Tersenyum, berteriak pada hujan dan gerimis, aku kini menjadi dokter, kalian mau bilang apa, aku tidak peduli. Aku tetap tegak berdiri di atas mimpiku. Aku telah menjemput impian!
Sayangnya, itu tidak terjadi...
Dan kesempatan saat itu...
It was...
Dan mimpi itu saat ini, apakah masih bisa kuwujudkan saat ini?
Namun berjalannya waktu telah banyak mengurai makna. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan atas cerita yang ia tulis untukku selama ini. Aku bersyukur karena Ia menunjukkan bahwa dibalik mendung selalu ada segaris pelangi. Di balik gelapnya malam, selalu akan ada gemerlap bintang. Garis kehidupan yang kulalui memberikan banyak pelajaran hidup membawa sebentuk diri ini. Ya, lautan impian itu memang telah mengecil, hanya menjadi sungai kehidupanku yang sekarang. Walau aku tidak di laut yang kuinginkan, aku masih bisa meminum dari sungai yang kulalui saat ini.
Sekarang terserah padaku, Ia masih memberi pilihan, meneruskan mengarunginya atau berlari dan menemukan cara lain untuk kembali menggapai laut. Inilah yang harus kucari jawabnya, jawaban yang membuatku resah. Apakah aku harus berdamai dengan logika dan meneruskan langkah yang kutempuh sekarang dan menemukan puncaknya. Atau apakah aku harus berbalik ke belakang dan mencari cara menjadi dokter, tapi dengan kewajiban akan pekerjaanku sekarang dan kewajiban-kewajiban keuangan yang mendesakku, apakah aku bisa melaluinya? Tidak bisakah aku melalui keduanya sekaligus?
Itulah jawaban yang ingin cepat kutuntaskan saat ini...
(Tulisan ini adalah bagian pertama)
Tuesday, October 4, 2011
4 Oct 2011 - Awas Ada Bajaj !!!

Awas Ada Bajaj!
Malam selasa lalu, aku dan kawanku, Si Kokok, berskuter ria sepulang kantor, karena mendapat undangan makan malam di kawasan Kelapa Gading. Aku mengemudikan skuter dan membonceng dia sambil mengobrol santai. Sesampai di kawasan Cempaka Putih, macet menahan laju kami. Aku berusaha mengemudikan pelan-pelan. Tiba-tiba sesosok berwarna orange dengan cahaya yang samar menerobos kerumunan kemacetan, membuatku terpaksa mengalah karena takut terserempet. Damn, itu adalah sebuah bajaj, kendaraan yng paling kubenci di Ibu Kota ini.
"Siapa sih yang nyiptain Bajaj? Bikin kendaraan ya kok nanggung, gak dua atau empat sekalian rodanya, ukurannya juga nanggung. Harusnya dihapuskan saja", sahutku. Kokok menimpali dengan santai, "Nanggung gimana, justru Bajaj itu kendaraan yang revolusioner". "Revolusioner dari Hongkong? Yang ada justru malah bikin kotor jalanan dengan bentuknya itu", tanyaku. Kokok tertawa. "Ya nggaklah, justru itu revolusioner makanya dia bertahan, kalau gak revolusioner pasti udah tinggal cerita aja itu". Aku bingung dengan pendapatnya, tapi Si Kokok berusaha menjelaskan.
"Bajaj memang ada positif negatifnya, ya semua kendaraan kan seperti itu", kata Kokok. "Apa positifnya?" tanyaku. "Banyak. Pertama, Bajaj itu ukurannya pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sehingga dia bisa masuk ke gang-gang yang sempit yang banyak di Jakarta, dan dengan ukuran itu, dia bisa muat lebih dari dua orang. Coba perhatikan, kalau orangnya kecil-kecil, bajaj bisa diisi sampai lima orang termasuk supir. Lalu dengan ukuran itu, bajaj bisa membawa barang-barang yang lebih banyak daripada membawa motor, sehingga bisa menjadi kendaraan niaga. Bahkan kemampuan bajaj dalam membawa barang bisa lebih hebat daripada sebuah mobil pick up, coba kalau kau pernah ke India, barang-barang bawaan penumpangnya itu sampai berkarung-karung, dan itu bisa ditaruh di atas atap bajaj sampai bertingkat-tingkat", cerita Kokok.
"Kedua, bajaj itu kendaraan yang hemat energi. Dengan daya agkut yang seperti itu, dia membutuhkan bensin sama dengan bensin motor, jadi gak seperti mobil yang memakan banyak BBM. Sehingga ongkos bajaj akan jauh lebih murah daripada ongkos taksi. Ketiga, dengan rodanya yang cuma tiga itu, Bajaj juga hemat dalam pembuatan. Dia tidak perlu memakai roda yang tidak perlu. Sehingga, dua belas roda bisa untuk empat bajaj, kalau buat mobil kan cuma buat tiga doang. Roda tiga juga memberikan dia kemampuan manuver yang sama seperti motor, namun dapat memberikan ketahanan yang sama seperti mobil. Lalu yang keempat, bajaj jelas memberikan perlindungan terhadap panas dan hujan yang tidak diberikan kepada pengendara motor", lanjut Kokok.
"Alasan kelima nih, tapi lu jangan ketawa", kata Kokok selanjutnya. "Apa itu?" tanyaku. "Bajaj itu sebuah kendaraan mewah", kata Kokok. "Hah? Kok bisa?" tanyaku heran. "Iya, coba kau perhatikan, Bajaj itu sebenarnya sebuah cabriolet atau convertible. Dia kan aslinya gak ada atapnya, atapnya pakai kain jas hujan. Itu kan sama kayak sebuah sedan Mercy yang convertible, beratap terbuka, tapi bisa dipasang atap kain jas hujan", jelas Kokok. Aku tertawa dan berpikir. Masuk akal juga penjelasannya, ternyata bajaj adalah sebuah convertible walau mungkin aku yakin banyak konglomerat dan konglomelarat yang tidak terima dengan pernyataan itu.
"Terus negatifnya apa?", tanyaku. "Negatifnya nih, pertama adalah bahan pembuatannya. Bajaj itu dibuat dengan bahan kaleng krupuk sepertinya, ya mungkin ditambah dengan sedikit besi-besi dan seng-seng bekas. Makanya dia cepet keropos dan gampang penyok kalau ditabrak. Rodanya juga sepertnya mengambil dari bangkai vespa. Lampunya juga seperti terbuat dari lampu senter, makanya syarat jadi sopir bajaj itu penglihatan harus bagus, biar gak nabrak. Jendelanya pun bukan dari kaca, tapi dari plastik bening. Jadi kayaknya diambil dari barang-barang bekas yang dirangkai menjadi bajaj. Kedua, bajaj itu tingkat kenyamanannya rendah, kursinya gak ada empuk-empuknya. Keras banget jadi kalau jalannya kasar bakal membuat pantat keriting. Lalu masalah AC, bajaj pakainya buka 'Air Conditioner', tapi pakainya 'Angin Cendela'.Ya memang membuat kita menyatu dengan alam sih, tapi menyatu juga dengan polusi, debu, dan terik matahari. Kalau hujan ya siap-siap saja kebasahan dari samping. Ketiga, bentuknya sangat tidak artistik dan tidak sesuai dengan wajah kota Jakarta yang modern. Bajaj itu mengapa dicat warna oranye, itu sama sekali gak cocok dan sangat mencolok mata. Ya itu sebabnya, bajaj jadi gak perlu lampu karena kalau malam pasti kelihatan dari warna mencoloknya. Bentuknya juga rounded gak jelas gitu, gak aerodinamis dan kurang memberikan perlindungan bagi penumpangnya. Yang keempat, penumpang bajaj harus siap mendengarkan polusi suara. Suara bajaj sangat berisik. Dari radius 1 km saja sudah terdengar suaranya saking berisiknya. Dan yang terakhr nih, mesin bajaj tidak ramah lingkungan, asap yang dikeluarkan hitam pekat bagaikan smoke grenade. Itu bisa jadi senjata supaya bajaj tidak terkejar sih, kan jadi terkamuflase".
Aku tertawa mendengar penjelasannya. "Makanya, harusnya pemilik bajaj itu meremajakan bajaj-bajajnya. Bentuknya harusnya lebih bagus, lebih aero dinamis, lebih modern, dan lebih manusiawi. Tingkat kenyamanannya ditingkatkan, bila perlu diberi pendingin ruangan. Mesin dibuat ramah lingkungan dan tidak berisik. Lampu dibuat yang terang dan sebaiknya bajaj juga diberi fitur-fitur keselamatan penumpang. Kalau bajaj bentuknya menarik hati, nyaman, kemudian membuat penumpang merasa aman, yakin deh, orang-orang bakal beramai-ramai naik bajaj. Bahkan pamor bajaj bisa meningkat menjadi sebuah kendaraan keluarga. Makanya gue setuju dengan bajaj BBG itu, itu sudah suatu kemajuan, sebaiknya terus ditingkatkan lagi perbaikan bajaj kedepan", ide gila dari Kokok. Aku tertawa semakin keras.
"Jangan ketawa aja lu, nyetir yang bener, entar nabrak gimana?" ingat Kokok. Belum sempat peringatan itu kuhiraukan, sesosok bajaj oranye tiba-tiba ngebut disebelahku, mengagetkanku, dan hampir menyerempet. Skuter pun jadi oleng dan dengan sempurna tersungkurlah aku dan Kokok karena menabrak trotoar akibat menghindari bajaj. Damn, dan aku pun berteriak "Awas ada bajaj!!!"
Thursday, September 29, 2011
29 Sep 2011 - Otakku Tertinggal di Toilet
Pagi yang cerah, mentari tersenyum berseri. Hari apakah ini? Yap, ini hari pertama masuk kerja, setelah liburan lebaran cukup lama. Aira berangkat dengan gembira, naik skuternya bernyanyi2. Kota Jakarta begitu lengang, kecepatan 100 km/jam tidak terasa baginya.
Sampai di kantor, hawa begitu sejuk. Dibukanya pintu ruangan dengan tersenyum. Teman2 ruangannya telah menanti disitu. Dengan semangatnya, Aira merapikan mejanya yg berserakan, menyalakan PC, berolahraga sebentar, dan bernyanyi-nyanyi. Bunga-bunga plastik, jam dinding, printer, kalender, dan seluruh yg ada di ruangan tampak gembira mendengar nyanyiannya. Oh sungguh bahagia hidupnya di pagi ini. Hari baru untuk memulai semangat kerja baru.
Tapi kebahagiaan itu tidak lama bagi Aira, tiba2 sebuah bayangan besar masuk ke ruangan. Takdirnya langsung berubah. Ternyata Panda kesayangan Aira datang dan langsung menghampirinya.
Panda: Aira, mana kerjaanmu yg kemarin sebelum liburan? Yang itu tu.
Aira: Oh, maaf pak, belum selesai, habis ini saya selesaikan.
Panda: lama amat kau ngerjainnya. Sudah 1 bulan gak selesai2. Kerjaan GAK PAKE OTAK aja lama amat!
Sontak, mendengar itu, seluruh aura kebahagiaan yg tadi menyelimuti Aira sekejap sirna. Bunga2 plastik langsung layu, burung2 di langit berguguran, jam dinding tiba2 rusak, kalender tiba2 jatuh dari dinding. Aira pucat. Baru 11 bulan ia bekerja, sudah tertohok dengan kata2 Pandanya. Oh sungguh malang. Semua yg di ruangan hanya bisa terdiam.
Dan lamunan kebahagiaan Aira pun sirna.
.....
Dan disinilah aku, sedang terduduk di toilet, sambil menikmati sensasi bermain flush. Tiba2 suasana menjadi lain. Bulu kudukku berdiri. Aura angker menyelimuti. Terdengar suara isak tangis perempuan. Buset. Serem. Masak siang bolong gini ada kuntilanak nangis. Hiiii....
Dan akupun keluar dari toilet. Kudapati sesosok wanita sedang duduk di sudut. Oh, dia Aira. Matanya merah dan berair. Sepertinya habis pakai insto.
Aku: Aira, ngapain lu? Sakit mata ya? Kok merah?
Aira: Gue lagi nangis, lu gimana sih?
Aku: oh, pantes, kirain tadi ada kuntilanak nangis di siang bolong. Gue ketakutan pas di toilet.
Aira: -_-"
Aku: ngapain kok nangis?
Aira: gue dibilang GAK PUNYA OTAK sama Panda.
Aku: Kok bisa? Emang otak lu dimana?
Aira: ya di kepala lah, emang dimana lagi.
Aku: ya berarti si Panda yg gak punya otak. Masa dia gak bisa tahu kalau otak lu di kepala.
Aira: emang otaknya dimana?
Aku: gak tahu, mungkin ketinggalan di toilet. Tadi dia boker duluan sebelum gue. Dan habis dia keluar, toilet jadi mampet, mungkin otaknya nyumbat kloset. Jadi daritadi aku flush terus.
Aira: Otak lu kali yg ketinggalan di toilet. Daritadi gak nyambung diajak omong.
Aku: Oh ya, sepertinya otakku ketinggalan di toilet.
.....

(Diinspirasi dari kisah nyata namun diceritakan secara fiksi dan berlebihan)
Sampai di kantor, hawa begitu sejuk. Dibukanya pintu ruangan dengan tersenyum. Teman2 ruangannya telah menanti disitu. Dengan semangatnya, Aira merapikan mejanya yg berserakan, menyalakan PC, berolahraga sebentar, dan bernyanyi-nyanyi. Bunga-bunga plastik, jam dinding, printer, kalender, dan seluruh yg ada di ruangan tampak gembira mendengar nyanyiannya. Oh sungguh bahagia hidupnya di pagi ini. Hari baru untuk memulai semangat kerja baru.
Tapi kebahagiaan itu tidak lama bagi Aira, tiba2 sebuah bayangan besar masuk ke ruangan. Takdirnya langsung berubah. Ternyata Panda kesayangan Aira datang dan langsung menghampirinya.
Panda: Aira, mana kerjaanmu yg kemarin sebelum liburan? Yang itu tu.
Aira: Oh, maaf pak, belum selesai, habis ini saya selesaikan.
Panda: lama amat kau ngerjainnya. Sudah 1 bulan gak selesai2. Kerjaan GAK PAKE OTAK aja lama amat!
Sontak, mendengar itu, seluruh aura kebahagiaan yg tadi menyelimuti Aira sekejap sirna. Bunga2 plastik langsung layu, burung2 di langit berguguran, jam dinding tiba2 rusak, kalender tiba2 jatuh dari dinding. Aira pucat. Baru 11 bulan ia bekerja, sudah tertohok dengan kata2 Pandanya. Oh sungguh malang. Semua yg di ruangan hanya bisa terdiam.
Dan lamunan kebahagiaan Aira pun sirna.
.....
Dan disinilah aku, sedang terduduk di toilet, sambil menikmati sensasi bermain flush. Tiba2 suasana menjadi lain. Bulu kudukku berdiri. Aura angker menyelimuti. Terdengar suara isak tangis perempuan. Buset. Serem. Masak siang bolong gini ada kuntilanak nangis. Hiiii....
Dan akupun keluar dari toilet. Kudapati sesosok wanita sedang duduk di sudut. Oh, dia Aira. Matanya merah dan berair. Sepertinya habis pakai insto.
Aku: Aira, ngapain lu? Sakit mata ya? Kok merah?
Aira: Gue lagi nangis, lu gimana sih?
Aku: oh, pantes, kirain tadi ada kuntilanak nangis di siang bolong. Gue ketakutan pas di toilet.
Aira: -_-"
Aku: ngapain kok nangis?
Aira: gue dibilang GAK PUNYA OTAK sama Panda.
Aku: Kok bisa? Emang otak lu dimana?
Aira: ya di kepala lah, emang dimana lagi.
Aku: ya berarti si Panda yg gak punya otak. Masa dia gak bisa tahu kalau otak lu di kepala.
Aira: emang otaknya dimana?
Aku: gak tahu, mungkin ketinggalan di toilet. Tadi dia boker duluan sebelum gue. Dan habis dia keluar, toilet jadi mampet, mungkin otaknya nyumbat kloset. Jadi daritadi aku flush terus.
Aira: Otak lu kali yg ketinggalan di toilet. Daritadi gak nyambung diajak omong.
Aku: Oh ya, sepertinya otakku ketinggalan di toilet.
.....

(Diinspirasi dari kisah nyata namun diceritakan secara fiksi dan berlebihan)
Wednesday, September 28, 2011
29 Sep 2011 - Di Depan Toilet Kantor - Mari Bekerja Menggunakan Hati, Boker Pun Harus Menggunakan Hati

Sesampainya di kantor, dengan penuh senyum dia menyapa Kokok, temen kantor yang kebetulan dititipin kalau ada paket datang. Sambil mengobrol kecil dengan penuh canda (but not flirting), tiba-tiba masuklah sesosok bertubuh tambun bak gentong di yang terisi air penuh, Dan terjadilah percakapan antara Dana dan Big Boss-nya.
Big Boss: Dan, mana kerjaan lu yang xxx itu, kok gak selesai-selesai??
Dana : Iya Pak, ini saya mau selesaikan, saya lupa kemarin, saya baru teringat hari ini.
Big Boss: Lu kok lupa-lupa terus, kerjaan itu sudah lama kali, sudah berapa minggu kau kerjain, masa gak kau ingat-ingat. MAKANYA KALAU KERJA PAKAI HATI. Aku aja kalau kerja selalu kuingat-ingat, bahkan sampai mau tidur pun aku masih ingat pekerjaanku. Bahkan sampai aku gak bisa tidur karena ingat pekerjaanku.
(dan sekali lagi, adegan yang bagus akan saya rewind)
Big Boss: MAKANYA KALAU KERJA PAKAI HATI
(mantap nih bos)
Dana langsung pucat pasi, muka berubah menjadi hijau, sambil menahan perasaan, entah dia mau marah atau kesal atau apalah, ya sudahlah.
Aku mendengar cerita itu dengan penuh haru (atau pengen nahan tawa). Wow, suatu pelajaran berharga, dimana dalam setiap melakukan pekerjaan apapun, agar melakukan hasil yang maksimal, kita harus melakukannya DENGAN HATI. Yap sekali lagi, mari bekerja DENGAN HATI. Seperti livery yang ada di Motornya Pedrosa, One Heart!!!
Akhirnya istilah One Heart di kantorku jadi populer hanya karena peristiwa itu. Tapi sebenarnya, memang benar adanya, kalau kita bekerja DENGAN HATI, tulus dan ikhlas, kerja kita akan menjadi lebih baik, tidak sembarangan, dan hasilnya memuaskan. Tapi itu makna konotasi, kalau makna denotasinya yang diambil, bekerja DENGAN HATI berarti, DIAM SAJA, SEMUA CUKUP DIPIKIRKAN DALAM HATI SAJA. Kalau si Dana memaknainya dengan denotasi, maka ia cukup diam saja, dan ketika ditanya, "mana kerjaanmu?" cukup dijawab oleh si Dana "sudah Pak, sudah saya kerjakan DENGAN HATI".
Ngomong-ngomong soal DENGAN HATI, daritadi aku sudah nahan perut ini sambil terkentut-kentut, siapa sih yang boker lama banget, kayaknya sudah 1 jam lebih. Jegrek, pintu toilet terbuka, dan keluarlah si Big Boss. Oh, dia ternyata. Memang dia mengerjakan segalanya DENGAN HATI, termasuk boker pun harus DENGAN HATI.
Tuesday, September 27, 2011
28 Sep 2011 - Renungan di Toilet Hotel Borobudur

Hari kedua ane mengikuti lokakarya mengenai Government Finance Statistics yang diadakan oleh Kementerian Keuangan di Hotel Borobudur Jakarta. Sebenarnya gak ada yang salah sama lokakarya ini, cuma AC yang terlalu rendah suhunya dan fan yang amat kenceng membuat ane berkali2 pengen ke toilet karena perut kembung.
Mumpung di toilet, mari menulis cerita yang ane dengar pagi ini. Cerita ini dari Mas Gobar, yang kemarin dia menceritakan temannya si Adeng dan si Ucup. Kali ini ia menceritakan tentang Om Mul. Om Mul ini masih keluarga Mas Gobar. Semula ane dan Mas Gobar cerita tentang raja2 Jawa. Dari situ, ane tahu kalau bokap Mas Gobar adalah seorang priyayi dan tercatat di buku silsilah Mangkunegaran. Om Mul-lah yang berjasa mencarikan silsilahnya dan mencatatkan keluarganya di buiku kraton tersebut.
Om Mul saat ini berada di Mesir, dia bekerja sebagai staf pengajar di sekolah Indonesia di sana. Om Mul bisa bekerja di sekolah itu karena dia multi talented. Untuk menghemat biaya, sekolah2 tersebut biasanya mencari guru yang bisa mengajar banyak mata pelajaran. Background pendidikannya adalah matematika, tapi saat pertama kali bekerja sebagai guru di Indonesia, dia adalah guru seni musik. Kok gak nyambung ya? Ternyata si Om adalah seorang musisi juga. Dia punya group band yg sering manggung di Putri Duyung Cottage. Dia dulu jg pernah menjadi composer musik pada acara kampanye salah satu partai politik di senayan.
Akhirnya Om Mul menerapkan ilmunya juga ketika menjadi dosen ekonometrika di salah satu universitas di Jakarta. Dan ternyata, salah satu mahasiswa si Om akhirnya menjadi istri dari Mas Gobar. Dunia memang sempit. Walaupun si Om ini orang Solo yang konon katanya terkenal dengan Islam Abangan, tapi si Om sangat alim, bahkan paling alim diantara saudara2nya.
Mendengar cerita tentang Om Mul, ane jadi berpikir, kayaknya orang yg multitalented bakal kepakek dimana2, dan gak bakal deh kelihatannya jadi pengangguran, terus mengemis di jalan kayak orang2 dari suatu desa di Indramayu itu. Punya banyak ilmu pasti suatu saat ada gunanya. Ane jadi teringet sama Anggito Abimanyu, yg seorang dosen, ahli ekonomi, pejabat, musisi, dan pemain basket. Orang yg multitalented emang keren.
Yup, sayang sekali, sekeren apapun orang, kalau sudah kembali ke toilet, ya yang keluar sesuatu yg bau juga, tu artinya manusia gak boleh lupa ama kodratnya, kodrat kalau sudah di toilet akhirnya ngeden juga.
Ngeden bareng2 yuk..
27 Sep 2011, Habis Kuliah, Lari2 Pulang ke Kosan, Kebelet
Sayang, toilet kosan ane bukan toilet duduk, jadi sambil jongkok, mari menulis, mumpung lagi pewe.....
Kuliah membuat capek malam ini. Dosennya nerangin tentang lembaga keuangan syariah. Nih gara2 ambil ilmu syariah, tujuannya bukan supaya tobat atau gimana, tapi semata2 demi nilai bagus yg "katanya" mudah didapat kalau join kelas syariah.
Dosen ane malam ini pernah bercerita tentang biografinya. Ia terlahir dari keluarga sederhana di Riau. Entah apa kotanya, tapi ngakunya Pekanbaru. Tamat SD ia merantau ke pulau Jawa, lebih tepatnya ia mondok di Ponpres Gontor, Ponorogo Jatim. Selama SMP dan SMA ia belajar ilmu Islam di ponpres tersebut. Sehabis dari Gontor, dengan modal nekat (katanya), ia terbang ke Mesir, untuk belajar di Universitas Al Azhar. Disana ia berhasil menamatkan kuliah sampai Master. Barulah ia pulang ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya pada tahun 1996. Awalnya mencoba bekerja di beberapa lembaga keuangan, tapi karena di Indonesia gak nemu lembaga keuangan yg dicari, yaitu lembaga keuangan Syariah yang bagus, akhirnya ia putuskan menjadi dosen.
Salutnya sama beliau sih, dia punya 8 orang anak. Untuk ukuran orang jaman sekarang, punya 8 orang anak itu "sesuatu banget". Tapi Alhamdulillah yah, kelihatannya dia bahagia. Prinsipnya yang penting ikhlas, rezeki sudah ada yg mengatur, tapi kita tidak boleh lantas tidak berusaha. Memang "sesuatu banget".
Sebenarnya ada dosen yang juga ceritanya hampir2 mirip yaitu cerita tentang dosen yg ngajar ekonomi syariah di tempat kuliah ane. Namun beliau sudah tua sih. Beliau kelahiran Bangka Belitung. Lahir dari keluarga sederhana atau dengan kata lain miskin (bukan menghina tapi jujur). Selepas SD, ayah beliau melepasnya untuk sekolah di Medan. Ayahnya berkata, "nak, kuikhlaskan kau sekolah ke Medan dengan kuberi bekal 15 kg beras ini dan ucapan bismillahhirohmanirrohim." Berangkatlah beliau ke Medan dan sekolah sambil bekerja di sana, hingga menamatkan SMA. Selepas SMA dengan modal nekat, dia hijrah ke Mesir, ke universitas Al Azhar, untuk bersekolah. Hingga sekarang beliau pun sudah jadi seorang Doktor. Saat ini, anak2nya juga sudah berkuliah dan sayangnya mereka kuliahnya di Malingshit, yah mungkin karena perekonomian syariahnya di negara tersebut sudah cukup maju, jadi wajar kalau banyak yg berkiblat kesana untuk masalah ekonomi syariah (padahal dulu Malingshit itu pengimpor guru2 dari Indonesia, sekarang gimana? Anda bisa jawab sendiri).
Sang dosen ini selalu berpesan kepada mahasiswanya, "siapapun kalian, apapun pekerjaan kalian, apapun pekerjaan orang tua kalian, kalian harus menuntut ilmu setinggi mungkin dan harus menjadi seorang Doktor." Dan di toilet yang bau ini pun aku berpekik serupa, "aku mau jadi seorang Doktor!!!"
Melihat kisah mereka, jadi teringat kisah yang ada di novel "Ketika Cinta Bertasbih", kisah seorang pemuda yg harus berjualan tempe buat sekolah di Al Azhar Mesir. Kukira kisah itu cuma imajinasi sesaat dari penulisnya, tapi ternyata banyak kisah serupa, dengan modal nekat, berani kuliah di luar negeri. So, aku kembali berpekik "aku mau kuliah di luar negeri tapi gak perlu jadi penjual tempe, kalau bisa beasiswa aja." Haduh, perjuangan buat menggapai cita2 kok nawar. Gimana sih diriku ini.
Ya sudah, mari dilanjutkan bokernya, karena tetangga kamar udah ngantri di depan toilet sambil ngoceh, "wong gendeng, teriak2 gak jelas." Yo wis ben. Sing penting, ngising!!!
Kuliah membuat capek malam ini. Dosennya nerangin tentang lembaga keuangan syariah. Nih gara2 ambil ilmu syariah, tujuannya bukan supaya tobat atau gimana, tapi semata2 demi nilai bagus yg "katanya" mudah didapat kalau join kelas syariah.
Dosen ane malam ini pernah bercerita tentang biografinya. Ia terlahir dari keluarga sederhana di Riau. Entah apa kotanya, tapi ngakunya Pekanbaru. Tamat SD ia merantau ke pulau Jawa, lebih tepatnya ia mondok di Ponpres Gontor, Ponorogo Jatim. Selama SMP dan SMA ia belajar ilmu Islam di ponpres tersebut. Sehabis dari Gontor, dengan modal nekat (katanya), ia terbang ke Mesir, untuk belajar di Universitas Al Azhar. Disana ia berhasil menamatkan kuliah sampai Master. Barulah ia pulang ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya pada tahun 1996. Awalnya mencoba bekerja di beberapa lembaga keuangan, tapi karena di Indonesia gak nemu lembaga keuangan yg dicari, yaitu lembaga keuangan Syariah yang bagus, akhirnya ia putuskan menjadi dosen.
Salutnya sama beliau sih, dia punya 8 orang anak. Untuk ukuran orang jaman sekarang, punya 8 orang anak itu "sesuatu banget". Tapi Alhamdulillah yah, kelihatannya dia bahagia. Prinsipnya yang penting ikhlas, rezeki sudah ada yg mengatur, tapi kita tidak boleh lantas tidak berusaha. Memang "sesuatu banget".
Sebenarnya ada dosen yang juga ceritanya hampir2 mirip yaitu cerita tentang dosen yg ngajar ekonomi syariah di tempat kuliah ane. Namun beliau sudah tua sih. Beliau kelahiran Bangka Belitung. Lahir dari keluarga sederhana atau dengan kata lain miskin (bukan menghina tapi jujur). Selepas SD, ayah beliau melepasnya untuk sekolah di Medan. Ayahnya berkata, "nak, kuikhlaskan kau sekolah ke Medan dengan kuberi bekal 15 kg beras ini dan ucapan bismillahhirohmanirrohim." Berangkatlah beliau ke Medan dan sekolah sambil bekerja di sana, hingga menamatkan SMA. Selepas SMA dengan modal nekat, dia hijrah ke Mesir, ke universitas Al Azhar, untuk bersekolah. Hingga sekarang beliau pun sudah jadi seorang Doktor. Saat ini, anak2nya juga sudah berkuliah dan sayangnya mereka kuliahnya di Malingshit, yah mungkin karena perekonomian syariahnya di negara tersebut sudah cukup maju, jadi wajar kalau banyak yg berkiblat kesana untuk masalah ekonomi syariah (padahal dulu Malingshit itu pengimpor guru2 dari Indonesia, sekarang gimana? Anda bisa jawab sendiri).
Sang dosen ini selalu berpesan kepada mahasiswanya, "siapapun kalian, apapun pekerjaan kalian, apapun pekerjaan orang tua kalian, kalian harus menuntut ilmu setinggi mungkin dan harus menjadi seorang Doktor." Dan di toilet yang bau ini pun aku berpekik serupa, "aku mau jadi seorang Doktor!!!"
Melihat kisah mereka, jadi teringat kisah yang ada di novel "Ketika Cinta Bertasbih", kisah seorang pemuda yg harus berjualan tempe buat sekolah di Al Azhar Mesir. Kukira kisah itu cuma imajinasi sesaat dari penulisnya, tapi ternyata banyak kisah serupa, dengan modal nekat, berani kuliah di luar negeri. So, aku kembali berpekik "aku mau kuliah di luar negeri tapi gak perlu jadi penjual tempe, kalau bisa beasiswa aja." Haduh, perjuangan buat menggapai cita2 kok nawar. Gimana sih diriku ini.
Ya sudah, mari dilanjutkan bokernya, karena tetangga kamar udah ngantri di depan toilet sambil ngoceh, "wong gendeng, teriak2 gak jelas." Yo wis ben. Sing penting, ngising!!!
Subscribe to:
Comments (Atom)