Tuesday, September 27, 2011

27 Sep 2011, Habis Kuliah, Lari2 Pulang ke Kosan, Kebelet

Sayang, toilet kosan ane bukan toilet duduk, jadi sambil jongkok, mari menulis, mumpung lagi pewe.....

Kuliah membuat capek malam ini. Dosennya nerangin tentang lembaga keuangan syariah. Nih gara2 ambil ilmu syariah, tujuannya bukan supaya tobat atau gimana, tapi semata2 demi nilai bagus yg "katanya" mudah didapat kalau join kelas syariah.

Dosen ane malam ini pernah bercerita tentang biografinya. Ia terlahir dari keluarga sederhana di Riau. Entah apa kotanya, tapi ngakunya Pekanbaru. Tamat SD ia merantau ke pulau Jawa, lebih tepatnya ia mondok di Ponpres Gontor, Ponorogo Jatim. Selama SMP dan SMA ia belajar ilmu Islam di ponpres tersebut. Sehabis dari Gontor, dengan modal nekat (katanya), ia terbang ke Mesir, untuk belajar di Universitas Al Azhar. Disana ia berhasil menamatkan kuliah sampai Master. Barulah ia pulang ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya pada tahun 1996. Awalnya mencoba bekerja di beberapa lembaga keuangan, tapi karena di Indonesia gak nemu lembaga keuangan yg dicari, yaitu lembaga keuangan Syariah yang bagus, akhirnya ia putuskan menjadi dosen.
Salutnya sama beliau sih, dia punya 8 orang anak. Untuk ukuran orang jaman sekarang, punya 8 orang anak itu "sesuatu banget". Tapi Alhamdulillah yah, kelihatannya dia bahagia. Prinsipnya yang penting ikhlas, rezeki sudah ada yg mengatur, tapi kita tidak boleh lantas tidak berusaha. Memang "sesuatu banget".

Sebenarnya ada dosen yang juga ceritanya hampir2 mirip yaitu cerita tentang dosen yg ngajar ekonomi syariah di tempat kuliah ane. Namun beliau sudah tua sih. Beliau kelahiran Bangka Belitung. Lahir dari keluarga sederhana atau dengan kata lain miskin (bukan menghina tapi jujur). Selepas SD, ayah beliau melepasnya untuk sekolah di Medan. Ayahnya berkata, "nak, kuikhlaskan kau sekolah ke Medan dengan kuberi bekal 15 kg beras ini dan ucapan bismillahhirohmanirrohim." Berangkatlah beliau ke Medan dan sekolah sambil bekerja di sana, hingga menamatkan SMA. Selepas SMA dengan modal nekat, dia hijrah ke Mesir, ke universitas Al Azhar, untuk bersekolah. Hingga sekarang beliau pun sudah jadi seorang Doktor. Saat ini, anak2nya juga sudah berkuliah dan sayangnya mereka kuliahnya di Malingshit, yah mungkin karena perekonomian syariahnya di negara tersebut sudah cukup maju, jadi wajar kalau banyak yg berkiblat kesana untuk masalah ekonomi syariah (padahal dulu Malingshit itu pengimpor guru2 dari Indonesia, sekarang gimana? Anda bisa jawab sendiri).
Sang dosen ini selalu berpesan kepada mahasiswanya, "siapapun kalian, apapun pekerjaan kalian, apapun pekerjaan orang tua kalian, kalian harus menuntut ilmu setinggi mungkin dan harus menjadi seorang Doktor." Dan di toilet yang bau ini pun aku berpekik serupa, "aku mau jadi seorang Doktor!!!"

Melihat kisah mereka, jadi teringat kisah yang ada di novel "Ketika Cinta Bertasbih", kisah seorang pemuda yg harus berjualan tempe buat sekolah di Al Azhar Mesir. Kukira kisah itu cuma imajinasi sesaat dari penulisnya, tapi ternyata banyak kisah serupa, dengan modal nekat, berani kuliah di luar negeri. So, aku kembali berpekik "aku mau kuliah di luar negeri tapi gak perlu jadi penjual tempe, kalau bisa beasiswa aja." Haduh, perjuangan buat menggapai cita2 kok nawar. Gimana sih diriku ini.

Ya sudah, mari dilanjutkan bokernya, karena tetangga kamar udah ngantri di depan toilet sambil ngoceh, "wong gendeng, teriak2 gak jelas." Yo wis ben. Sing penting, ngising!!!

No comments:

Post a Comment