Tuesday, October 4, 2011

4 Oct 2011 - Awas Ada Bajaj !!!


Awas Ada Bajaj!

Malam selasa lalu, aku dan kawanku, Si Kokok, berskuter ria sepulang kantor, karena mendapat undangan makan malam di kawasan Kelapa Gading. Aku mengemudikan skuter dan membonceng dia sambil mengobrol santai. Sesampai di kawasan Cempaka Putih, macet menahan laju kami. Aku berusaha mengemudikan pelan-pelan. Tiba-tiba sesosok berwarna orange dengan cahaya yang samar menerobos kerumunan kemacetan, membuatku terpaksa mengalah karena takut terserempet. Damn, itu adalah sebuah bajaj, kendaraan yng paling kubenci di Ibu Kota ini.

"Siapa sih yang nyiptain Bajaj? Bikin kendaraan ya kok nanggung, gak dua atau empat sekalian rodanya, ukurannya juga nanggung. Harusnya dihapuskan saja", sahutku. Kokok menimpali dengan santai, "Nanggung gimana, justru Bajaj itu kendaraan yang revolusioner". "Revolusioner dari Hongkong? Yang ada justru malah bikin kotor jalanan dengan bentuknya itu", tanyaku. Kokok tertawa. "Ya nggaklah, justru itu revolusioner makanya dia bertahan, kalau gak revolusioner pasti udah tinggal cerita aja itu". Aku bingung dengan pendapatnya, tapi Si Kokok berusaha menjelaskan.

"Bajaj memang ada positif negatifnya, ya semua kendaraan kan seperti itu", kata Kokok. "Apa positifnya?" tanyaku. "Banyak. Pertama, Bajaj itu ukurannya pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sehingga dia bisa masuk ke gang-gang yang sempit yang banyak di Jakarta, dan dengan ukuran itu, dia bisa muat lebih dari dua orang. Coba perhatikan, kalau orangnya kecil-kecil, bajaj bisa diisi sampai lima orang termasuk supir. Lalu dengan ukuran itu, bajaj bisa membawa barang-barang yang lebih banyak daripada membawa motor, sehingga bisa menjadi kendaraan niaga. Bahkan kemampuan bajaj dalam membawa barang bisa lebih hebat daripada sebuah mobil pick up, coba kalau kau pernah ke India, barang-barang bawaan penumpangnya itu sampai berkarung-karung, dan itu bisa ditaruh di atas atap bajaj sampai bertingkat-tingkat", cerita Kokok.

"Kedua, bajaj itu kendaraan yang hemat energi. Dengan daya agkut yang seperti itu, dia membutuhkan bensin sama dengan bensin motor, jadi gak seperti mobil yang memakan banyak BBM. Sehingga ongkos bajaj akan jauh lebih murah daripada ongkos taksi. Ketiga, dengan rodanya yang cuma tiga itu, Bajaj juga hemat dalam pembuatan. Dia tidak perlu memakai roda yang tidak perlu. Sehingga, dua belas roda bisa untuk empat bajaj, kalau buat mobil kan cuma buat tiga doang. Roda tiga juga memberikan dia kemampuan manuver yang sama seperti motor, namun dapat memberikan ketahanan yang sama seperti mobil. Lalu yang keempat, bajaj jelas memberikan perlindungan terhadap panas dan hujan yang tidak diberikan kepada pengendara motor", lanjut Kokok.

"Alasan kelima nih, tapi lu jangan ketawa", kata Kokok selanjutnya. "Apa itu?" tanyaku. "Bajaj itu sebuah kendaraan mewah", kata Kokok. "Hah? Kok bisa?" tanyaku heran. "Iya, coba kau perhatikan, Bajaj itu sebenarnya sebuah cabriolet atau convertible. Dia kan aslinya gak ada atapnya, atapnya pakai kain jas hujan. Itu kan sama kayak sebuah sedan Mercy yang convertible, beratap terbuka, tapi bisa dipasang atap kain jas hujan", jelas Kokok. Aku tertawa dan berpikir. Masuk akal juga penjelasannya, ternyata bajaj adalah sebuah convertible walau mungkin aku yakin banyak konglomerat dan konglomelarat yang tidak terima dengan pernyataan itu.

"Terus negatifnya apa?", tanyaku. "Negatifnya nih, pertama adalah bahan pembuatannya. Bajaj itu dibuat dengan bahan kaleng krupuk sepertinya, ya mungkin ditambah dengan sedikit besi-besi dan seng-seng bekas. Makanya dia cepet keropos dan gampang penyok kalau ditabrak. Rodanya juga sepertnya mengambil dari bangkai vespa. Lampunya juga seperti terbuat dari lampu senter, makanya syarat jadi sopir bajaj itu penglihatan harus bagus, biar gak nabrak. Jendelanya pun bukan dari kaca, tapi dari plastik bening. Jadi kayaknya diambil dari barang-barang bekas yang dirangkai menjadi bajaj. Kedua, bajaj itu tingkat kenyamanannya rendah, kursinya gak ada empuk-empuknya. Keras banget jadi kalau jalannya kasar bakal membuat pantat keriting. Lalu masalah AC, bajaj pakainya buka 'Air Conditioner', tapi pakainya 'Angin Cendela'.Ya memang membuat kita menyatu dengan alam sih, tapi menyatu juga dengan polusi, debu, dan terik matahari. Kalau hujan ya siap-siap saja kebasahan dari samping. Ketiga, bentuknya sangat tidak artistik dan tidak sesuai dengan wajah kota Jakarta yang modern. Bajaj itu mengapa dicat warna oranye, itu sama sekali gak cocok dan sangat mencolok mata. Ya itu sebabnya, bajaj jadi gak perlu lampu karena kalau malam pasti kelihatan dari warna mencoloknya. Bentuknya juga rounded gak jelas gitu, gak aerodinamis dan kurang memberikan perlindungan bagi penumpangnya. Yang keempat, penumpang bajaj harus siap mendengarkan polusi suara. Suara bajaj sangat berisik. Dari radius 1 km saja sudah terdengar suaranya saking berisiknya. Dan yang terakhr nih, mesin bajaj tidak ramah lingkungan, asap yang dikeluarkan hitam pekat bagaikan smoke grenade. Itu bisa jadi senjata supaya bajaj tidak terkejar sih, kan jadi terkamuflase".

Aku tertawa mendengar penjelasannya. "Makanya, harusnya pemilik bajaj itu meremajakan bajaj-bajajnya. Bentuknya harusnya lebih bagus, lebih aero dinamis, lebih modern, dan lebih manusiawi. Tingkat kenyamanannya ditingkatkan, bila perlu diberi pendingin ruangan. Mesin dibuat ramah lingkungan dan tidak berisik. Lampu dibuat yang terang dan sebaiknya bajaj juga diberi fitur-fitur keselamatan penumpang. Kalau bajaj bentuknya menarik hati, nyaman, kemudian membuat penumpang merasa aman, yakin deh, orang-orang bakal beramai-ramai naik bajaj. Bahkan pamor bajaj bisa meningkat menjadi sebuah kendaraan keluarga. Makanya gue setuju dengan bajaj BBG itu, itu sudah suatu kemajuan, sebaiknya terus ditingkatkan lagi perbaikan bajaj kedepan", ide gila dari Kokok. Aku tertawa semakin keras.

"Jangan ketawa aja lu, nyetir yang bener, entar nabrak gimana?" ingat Kokok. Belum sempat peringatan itu kuhiraukan, sesosok bajaj oranye tiba-tiba ngebut disebelahku, mengagetkanku, dan hampir menyerempet. Skuter pun jadi oleng dan dengan sempurna tersungkurlah aku dan Kokok karena menabrak trotoar akibat menghindari bajaj. Damn, dan aku pun berteriak "Awas ada bajaj!!!"

Thursday, September 29, 2011

29 Sep 2011 - Otakku Tertinggal di Toilet

Pagi yang cerah, mentari tersenyum berseri. Hari apakah ini? Yap, ini hari pertama masuk kerja, setelah liburan lebaran cukup lama. Aira berangkat dengan gembira, naik skuternya bernyanyi2. Kota Jakarta begitu lengang, kecepatan 100 km/jam tidak terasa baginya.

Sampai di kantor, hawa begitu sejuk. Dibukanya pintu ruangan dengan tersenyum. Teman2 ruangannya telah menanti disitu. Dengan semangatnya, Aira merapikan mejanya yg berserakan, menyalakan PC, berolahraga sebentar, dan bernyanyi-nyanyi. Bunga-bunga plastik, jam dinding, printer, kalender, dan seluruh yg ada di ruangan tampak gembira mendengar nyanyiannya. Oh sungguh bahagia hidupnya di pagi ini. Hari baru untuk memulai semangat kerja baru.

Tapi kebahagiaan itu tidak lama bagi Aira, tiba2 sebuah bayangan besar masuk ke ruangan. Takdirnya langsung berubah. Ternyata Panda kesayangan Aira datang dan langsung menghampirinya.

Panda: Aira, mana kerjaanmu yg kemarin sebelum liburan? Yang itu tu.

Aira: Oh, maaf pak, belum selesai, habis ini saya selesaikan.

Panda: lama amat kau ngerjainnya. Sudah 1 bulan gak selesai2. Kerjaan GAK PAKE OTAK aja lama amat!

Sontak, mendengar itu, seluruh aura kebahagiaan yg tadi menyelimuti Aira sekejap sirna. Bunga2 plastik langsung layu, burung2 di langit berguguran, jam dinding tiba2 rusak, kalender tiba2 jatuh dari dinding. Aira pucat. Baru 11 bulan ia bekerja, sudah tertohok dengan kata2 Pandanya. Oh sungguh malang. Semua yg di ruangan hanya bisa terdiam.

Dan lamunan kebahagiaan Aira pun sirna.

.....

Dan disinilah aku, sedang terduduk di toilet, sambil menikmati sensasi bermain flush. Tiba2 suasana menjadi lain. Bulu kudukku berdiri. Aura angker menyelimuti. Terdengar suara isak tangis perempuan. Buset. Serem. Masak siang bolong gini ada kuntilanak nangis. Hiiii....

Dan akupun keluar dari toilet. Kudapati sesosok wanita sedang duduk di sudut. Oh, dia Aira. Matanya merah dan berair. Sepertinya habis pakai insto.

Aku: Aira, ngapain lu? Sakit mata ya? Kok merah?

Aira: Gue lagi nangis, lu gimana sih?

Aku: oh, pantes, kirain tadi ada kuntilanak nangis di siang bolong. Gue ketakutan pas di toilet.

Aira: -_-"

Aku: ngapain kok nangis?

Aira: gue dibilang GAK PUNYA OTAK sama Panda.

Aku: Kok bisa? Emang otak lu dimana?

Aira: ya di kepala lah, emang dimana lagi.

Aku: ya berarti si Panda yg gak punya otak. Masa dia gak bisa tahu kalau otak lu di kepala.

Aira: emang otaknya dimana?

Aku: gak tahu, mungkin ketinggalan di toilet. Tadi dia boker duluan sebelum gue. Dan habis dia keluar, toilet jadi mampet, mungkin otaknya nyumbat kloset. Jadi daritadi aku flush terus.

Aira: Otak lu kali yg ketinggalan di toilet. Daritadi gak nyambung diajak omong.

Aku: Oh ya, sepertinya otakku ketinggalan di toilet.
.....



(Diinspirasi dari kisah nyata namun diceritakan secara fiksi dan berlebihan)


Wednesday, September 28, 2011

29 Sep 2011 - Di Depan Toilet Kantor - Mari Bekerja Menggunakan Hati, Boker Pun Harus Menggunakan Hati




Pagi yang cerah bagi sang Dana. (nama orang nih). Seperti biasa ia berangkat ke kantor dengan motornya, sembari mendengarkan MP3 di sepanjang perjalanan (hal yang kayak gini sebaiknya tidak ditiru, kalau ketahuan Polisi, bisa ditilang). Dia tampak senyum sumringah, yap, karena dia hari ini akan mendapatkan paket kiriman sarung tangan baseball-nya. Sarung tangan baseball lamanya yang mengingatkan dia akan tangkapan dia yang keren sewaktu masih jadi pitcher dulu.

Sesampainya di kantor, dengan penuh senyum dia menyapa Kokok, temen kantor yang kebetulan dititipin kalau ada paket datang. Sambil mengobrol kecil dengan penuh canda (but not flirting), tiba-tiba masuklah sesosok bertubuh tambun bak gentong di yang terisi air penuh, Dan terjadilah percakapan antara Dana dan Big Boss-nya.

Big Boss: Dan, mana kerjaan lu yang xxx itu, kok gak selesai-selesai??

Dana : Iya Pak, ini saya mau selesaikan, saya lupa kemarin, saya baru teringat hari ini.

Big Boss: Lu kok lupa-lupa terus, kerjaan itu sudah lama kali, sudah berapa minggu kau kerjain, masa gak kau ingat-ingat. MAKANYA KALAU KERJA PAKAI HATI. Aku aja kalau kerja selalu kuingat-ingat, bahkan sampai mau tidur pun aku masih ingat pekerjaanku. Bahkan sampai aku gak bisa tidur karena ingat pekerjaanku.

(dan sekali lagi, adegan yang bagus akan saya rewind)

Big Boss: MAKANYA KALAU KERJA PAKAI HATI

(mantap nih bos)

Dana langsung pucat pasi, muka berubah menjadi hijau, sambil menahan perasaan, entah dia mau marah atau kesal atau apalah, ya sudahlah.

Aku mendengar cerita itu dengan penuh haru (atau pengen nahan tawa). Wow, suatu pelajaran berharga, dimana dalam setiap melakukan pekerjaan apapun, agar melakukan hasil yang maksimal, kita harus melakukannya DENGAN HATI. Yap sekali lagi, mari bekerja DENGAN HATI. Seperti livery yang ada di Motornya Pedrosa, One Heart!!!

Akhirnya istilah One Heart di kantorku jadi populer hanya karena peristiwa itu. Tapi sebenarnya, memang benar adanya, kalau kita bekerja DENGAN HATI, tulus dan ikhlas, kerja kita akan menjadi lebih baik, tidak sembarangan, dan hasilnya memuaskan. Tapi itu makna konotasi, kalau makna denotasinya yang diambil, bekerja DENGAN HATI berarti, DIAM SAJA, SEMUA CUKUP DIPIKIRKAN DALAM HATI SAJA. Kalau si Dana memaknainya dengan denotasi, maka ia cukup diam saja, dan ketika ditanya, "mana kerjaanmu?" cukup dijawab oleh si Dana "sudah Pak, sudah saya kerjakan DENGAN HATI".

Ngomong-ngomong soal DENGAN HATI, daritadi aku sudah nahan perut ini sambil terkentut-kentut, siapa sih yang boker lama banget, kayaknya sudah 1 jam lebih. Jegrek, pintu toilet terbuka, dan keluarlah si Big Boss. Oh, dia ternyata. Memang dia mengerjakan segalanya DENGAN HATI, termasuk boker pun harus DENGAN HATI.

Tuesday, September 27, 2011

28 Sep 2011 - Renungan di Toilet Hotel Borobudur


Hari kedua ane mengikuti lokakarya mengenai Government Finance Statistics yang diadakan oleh Kementerian Keuangan di Hotel Borobudur Jakarta. Sebenarnya gak ada yang salah sama lokakarya ini, cuma AC yang terlalu rendah suhunya dan fan yang amat kenceng membuat ane berkali2 pengen ke toilet karena perut kembung.

Mumpung di toilet, mari menulis cerita yang ane dengar pagi ini. Cerita ini dari Mas Gobar, yang kemarin dia menceritakan temannya si Adeng dan si Ucup. Kali ini ia menceritakan tentang Om Mul. Om Mul ini masih keluarga Mas Gobar. Semula ane dan Mas Gobar cerita tentang raja2 Jawa. Dari situ, ane tahu kalau bokap Mas Gobar adalah seorang priyayi dan tercatat di buku silsilah Mangkunegaran. Om Mul-lah yang berjasa mencarikan silsilahnya dan mencatatkan keluarganya di buiku kraton tersebut.

Om Mul saat ini berada di Mesir, dia bekerja sebagai staf pengajar di sekolah Indonesia di sana. Om Mul bisa bekerja di sekolah itu karena dia multi talented. Untuk menghemat biaya, sekolah2 tersebut biasanya mencari guru yang bisa mengajar banyak mata pelajaran. Background pendidikannya adalah matematika, tapi saat pertama kali bekerja sebagai guru di Indonesia, dia adalah guru seni musik. Kok gak nyambung ya? Ternyata si Om adalah seorang musisi juga. Dia punya group band yg sering manggung di Putri Duyung Cottage. Dia dulu jg pernah menjadi composer musik pada acara kampanye salah satu partai politik di senayan.

Akhirnya Om Mul menerapkan ilmunya juga ketika menjadi dosen ekonometrika di salah satu universitas di Jakarta. Dan ternyata, salah satu mahasiswa si Om akhirnya menjadi istri dari Mas Gobar. Dunia memang sempit. Walaupun si Om ini orang Solo yang konon katanya terkenal dengan Islam Abangan, tapi si Om sangat alim, bahkan paling alim diantara saudara2nya.

Mendengar cerita tentang Om Mul, ane jadi berpikir, kayaknya orang yg multitalented bakal kepakek dimana2, dan gak bakal deh kelihatannya jadi pengangguran, terus mengemis di jalan kayak orang2 dari suatu desa di Indramayu itu. Punya banyak ilmu pasti suatu saat ada gunanya. Ane jadi teringet sama Anggito Abimanyu, yg seorang dosen, ahli ekonomi, pejabat, musisi, dan pemain basket. Orang yg multitalented emang keren.

Yup, sayang sekali, sekeren apapun orang, kalau sudah kembali ke toilet, ya yang keluar sesuatu yg bau juga, tu artinya manusia gak boleh lupa ama kodratnya, kodrat kalau sudah di toilet akhirnya ngeden juga.

Ngeden bareng2 yuk..

27 Sep 2011, Habis Kuliah, Lari2 Pulang ke Kosan, Kebelet

Sayang, toilet kosan ane bukan toilet duduk, jadi sambil jongkok, mari menulis, mumpung lagi pewe.....

Kuliah membuat capek malam ini. Dosennya nerangin tentang lembaga keuangan syariah. Nih gara2 ambil ilmu syariah, tujuannya bukan supaya tobat atau gimana, tapi semata2 demi nilai bagus yg "katanya" mudah didapat kalau join kelas syariah.

Dosen ane malam ini pernah bercerita tentang biografinya. Ia terlahir dari keluarga sederhana di Riau. Entah apa kotanya, tapi ngakunya Pekanbaru. Tamat SD ia merantau ke pulau Jawa, lebih tepatnya ia mondok di Ponpres Gontor, Ponorogo Jatim. Selama SMP dan SMA ia belajar ilmu Islam di ponpres tersebut. Sehabis dari Gontor, dengan modal nekat (katanya), ia terbang ke Mesir, untuk belajar di Universitas Al Azhar. Disana ia berhasil menamatkan kuliah sampai Master. Barulah ia pulang ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya pada tahun 1996. Awalnya mencoba bekerja di beberapa lembaga keuangan, tapi karena di Indonesia gak nemu lembaga keuangan yg dicari, yaitu lembaga keuangan Syariah yang bagus, akhirnya ia putuskan menjadi dosen.
Salutnya sama beliau sih, dia punya 8 orang anak. Untuk ukuran orang jaman sekarang, punya 8 orang anak itu "sesuatu banget". Tapi Alhamdulillah yah, kelihatannya dia bahagia. Prinsipnya yang penting ikhlas, rezeki sudah ada yg mengatur, tapi kita tidak boleh lantas tidak berusaha. Memang "sesuatu banget".

Sebenarnya ada dosen yang juga ceritanya hampir2 mirip yaitu cerita tentang dosen yg ngajar ekonomi syariah di tempat kuliah ane. Namun beliau sudah tua sih. Beliau kelahiran Bangka Belitung. Lahir dari keluarga sederhana atau dengan kata lain miskin (bukan menghina tapi jujur). Selepas SD, ayah beliau melepasnya untuk sekolah di Medan. Ayahnya berkata, "nak, kuikhlaskan kau sekolah ke Medan dengan kuberi bekal 15 kg beras ini dan ucapan bismillahhirohmanirrohim." Berangkatlah beliau ke Medan dan sekolah sambil bekerja di sana, hingga menamatkan SMA. Selepas SMA dengan modal nekat, dia hijrah ke Mesir, ke universitas Al Azhar, untuk bersekolah. Hingga sekarang beliau pun sudah jadi seorang Doktor. Saat ini, anak2nya juga sudah berkuliah dan sayangnya mereka kuliahnya di Malingshit, yah mungkin karena perekonomian syariahnya di negara tersebut sudah cukup maju, jadi wajar kalau banyak yg berkiblat kesana untuk masalah ekonomi syariah (padahal dulu Malingshit itu pengimpor guru2 dari Indonesia, sekarang gimana? Anda bisa jawab sendiri).
Sang dosen ini selalu berpesan kepada mahasiswanya, "siapapun kalian, apapun pekerjaan kalian, apapun pekerjaan orang tua kalian, kalian harus menuntut ilmu setinggi mungkin dan harus menjadi seorang Doktor." Dan di toilet yang bau ini pun aku berpekik serupa, "aku mau jadi seorang Doktor!!!"

Melihat kisah mereka, jadi teringat kisah yang ada di novel "Ketika Cinta Bertasbih", kisah seorang pemuda yg harus berjualan tempe buat sekolah di Al Azhar Mesir. Kukira kisah itu cuma imajinasi sesaat dari penulisnya, tapi ternyata banyak kisah serupa, dengan modal nekat, berani kuliah di luar negeri. So, aku kembali berpekik "aku mau kuliah di luar negeri tapi gak perlu jadi penjual tempe, kalau bisa beasiswa aja." Haduh, perjuangan buat menggapai cita2 kok nawar. Gimana sih diriku ini.

Ya sudah, mari dilanjutkan bokernya, karena tetangga kamar udah ngantri di depan toilet sambil ngoceh, "wong gendeng, teriak2 gak jelas." Yo wis ben. Sing penting, ngising!!!

Monday, September 26, 2011

27 Sep 2011 - renungan di toilet lobby Hotel Borobudur


Sakit perut, termenung duduk di toilet umum hotel ini, ruangannya cukup luas dengan aksen kayu modern. Nyaman sekali toilet 5 star hotel ini. Memang standar luar negeri toiletnya. Namun karena perut sakit gak tahan, masuk anginnya belum selesai. Jadi sebagus apapun toiletnya, tetap tersiksa banget rasanya.

Nih datang ke hotel bukan gak ada tujuan, tapi lagi ngikut loka karya tentang akuntansi pemerintahan. Yang ngadain pemerintah kerjasama dgn orang Australia. Acaranya baru pembukaan saja.

Tadi sebelum acara, sempat ngobrol2 dgn Mas Gobar, teman yang ditugaskan ikut acara ini bareng ane. Ngobrolin tentang bahwa nasib orang itu gak bisa dilihat di awal, tp di akhir2 karirnya. Dia mencontohkan teman dia, dua orang.

Yg pertama namanya Adeng, alias anak Sedeng, entah kenapa kok diberi nama Sedeng, mungkin karena dia agak gak waras. Dalam kehidupan sekolahnya si Adeng ini selalu jadi rangking terakhir. Tapi entah kenapa dia bisa lolos Psikologi UI. Teman2nya gak ada yg percaya kalau si Adeng bisa masuk UI, di UMPTN berikutnya dia mendaftar lagi dan diterima di hukum UI dan Ekonomi UI, tapi gak dijabanin, ya cuma buat buktiin ke temen2nya kalau dia bisa masuk UI walau sedeng. Lulus dari prsikologi UI, dia merantau ke surabaya. Tanpa sanak saudara, tanpa memberitahu keluarganya alamatnya di surabaya dimana, si Adeng akhirnya jualan di pasar. Ternyata di akhir cerita, usaha si Adeng sukses, dan dia akhirnya jadi pengusaha. Disamping itu, si Adeng ngamalin ilmunya dengan menjadi motivator, dia akhirnya sering dipanggil ke jakarta buat menjadi pembicara di acara2 motivasi. Tapi namanya saja sedeng, sampai skrg dia pun gak mau ngasih tahu nomer hpnya ke temen dan saudara2nya. Alasannya, ya biar dia gak manja, terus kalau ada kesulitan minta tolong sama teman dan saudaranya. Salut. Memang aneh sih. Wajarlah, dia bilang kalau orang masuk psikologi karena 2 alasan, yg pertama karena terpaksa masuk, yg kedua karena pengen berobat jalan. Karena dia nyadar kalau sedeng, dia pilih alasan kedua buat masuk psikologi, supaya berobat gratis atas kesedengannya.

Orang kedua yg diceritain namanya si Ucup. Si Ucup ini seorang pemalu, sukanya nutupin hidungnya pakai sapu tangan. Ia dulunya disuruh masuk SMEA sama babenya, katanya supaya bisa jadi pegawai pajak kayak encingnya. Ane jadi bingung nyambungnya kok SMEA jadi pegawai pajak. Karena malu dibilang banci, karena SMEA identik sama cewek, si Ucup akhirnya pindah ke sekolah pelayaran yg semi militer. Karena sekolah di militer inilah, kemaluannya hilang, eh sifat pemalunya hilang. Tamat dr situ, si Ucup ngelamar kerja jadi satpam di kedutaan Inggris, dan diterimalah dia. Si Ucup ini ternyata pinter bahasa inggris, kemana2 dia selalu bawa kamus. Pas main bola bawa kamus, pas berenang dia jg bawa kamus. Bahkan, saat jadi satpam ini, dia kuliah Sastra Inggris, tapi gak ngelanjutin sih. Karir satpam Ucup di Kedutaan akhirnya sukses, dia sempat jadi ajudan bagi Dubes. Karena ingin masa depan yg lebih baik, Ucup ndaftar buat jadi satpam ke Bank BBD (sebelum merger sama Bank Mandiri). Pas uji psikotest, gak lulus, alasannya gak cocok jadi satpam. Ya sudah dia ngelanjutin karir jadi satpam di Dubes. 6 bulan kemudian dia dapat panggilan untuk tes jadi pegawai Bank tersebut mengingat nilai tes kemarin dia nilainya sebenarnya bagus, tapi gak lulus psikotest , dan akhirnya dia diterima.. Saat diterima itu, dia bilang ke temen2nya, "emang psikotest itu bener, gue gak cocok jadi satpam, tapi jadi pegawai bank". Ada-ada aja memang.
Belakangan diketahui kalau si Ucup sudah jadi auditor di Bank Mandiri. Kerenlah dia di mata babenya, sama kayak encingnya yg jadi pegawai pajak.

Melihat cerita2 itu bener kata Mas Gobar, awal boleh jelek, tapi akhir siapa yg tahu. Jadi kepikiran gimana akhir karir ane.

Ya sudahlah, biar waktu yg menjawab.

Damn, gak ada semprotan airnya, ane gak terbiasa pakai tisu. Aduh..... Gimana nih?? Uhhhhhh..... Tangan jadi kotor semua... Yek...

27 Sep 2011, di toilet Kantor

Aku tidak tahu apa yg kuinginkan.

Hari ini kosong dan sepi, sama seperti semenjak puasa lalu. Merasakan kehampaan yg luar biasa. Galau

Perutku terasa sakit. Yg keluar hanya cairan. Mungkin ini cairan otak dan hatiku yg telah meleleh, yg kemudian mengalir melalui saluran bawah. Otak yang sudah gak kuat menahan betapa beratnya beban ini.

Akhirnya, sudah kembali keras. Sepertinya masuk angin. Maklum, kasurku sudah setipis kertas, jadi seperti terasa tidur di lantai dan akhirnya masuk angin. Oh seandainya ini bukan di Jakarta. Seandainya ini ada di rumah, di kampung. Walau bukan toilet duduk, masih di pinggir sungai, dengan berbagai dilema dan tantangannya, tapi terasa menyenangkan. Oh seandainya.