
Awas Ada Bajaj!
Malam selasa lalu, aku dan kawanku, Si Kokok, berskuter ria sepulang kantor, karena mendapat undangan makan malam di kawasan Kelapa Gading. Aku mengemudikan skuter dan membonceng dia sambil mengobrol santai. Sesampai di kawasan Cempaka Putih, macet menahan laju kami. Aku berusaha mengemudikan pelan-pelan. Tiba-tiba sesosok berwarna orange dengan cahaya yang samar menerobos kerumunan kemacetan, membuatku terpaksa mengalah karena takut terserempet. Damn, itu adalah sebuah bajaj, kendaraan yng paling kubenci di Ibu Kota ini.
"Siapa sih yang nyiptain Bajaj? Bikin kendaraan ya kok nanggung, gak dua atau empat sekalian rodanya, ukurannya juga nanggung. Harusnya dihapuskan saja", sahutku. Kokok menimpali dengan santai, "Nanggung gimana, justru Bajaj itu kendaraan yang revolusioner". "Revolusioner dari Hongkong? Yang ada justru malah bikin kotor jalanan dengan bentuknya itu", tanyaku. Kokok tertawa. "Ya nggaklah, justru itu revolusioner makanya dia bertahan, kalau gak revolusioner pasti udah tinggal cerita aja itu". Aku bingung dengan pendapatnya, tapi Si Kokok berusaha menjelaskan.
"Bajaj memang ada positif negatifnya, ya semua kendaraan kan seperti itu", kata Kokok. "Apa positifnya?" tanyaku. "Banyak. Pertama, Bajaj itu ukurannya pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sehingga dia bisa masuk ke gang-gang yang sempit yang banyak di Jakarta, dan dengan ukuran itu, dia bisa muat lebih dari dua orang. Coba perhatikan, kalau orangnya kecil-kecil, bajaj bisa diisi sampai lima orang termasuk supir. Lalu dengan ukuran itu, bajaj bisa membawa barang-barang yang lebih banyak daripada membawa motor, sehingga bisa menjadi kendaraan niaga. Bahkan kemampuan bajaj dalam membawa barang bisa lebih hebat daripada sebuah mobil pick up, coba kalau kau pernah ke India, barang-barang bawaan penumpangnya itu sampai berkarung-karung, dan itu bisa ditaruh di atas atap bajaj sampai bertingkat-tingkat", cerita Kokok.
"Kedua, bajaj itu kendaraan yang hemat energi. Dengan daya agkut yang seperti itu, dia membutuhkan bensin sama dengan bensin motor, jadi gak seperti mobil yang memakan banyak BBM. Sehingga ongkos bajaj akan jauh lebih murah daripada ongkos taksi. Ketiga, dengan rodanya yang cuma tiga itu, Bajaj juga hemat dalam pembuatan. Dia tidak perlu memakai roda yang tidak perlu. Sehingga, dua belas roda bisa untuk empat bajaj, kalau buat mobil kan cuma buat tiga doang. Roda tiga juga memberikan dia kemampuan manuver yang sama seperti motor, namun dapat memberikan ketahanan yang sama seperti mobil. Lalu yang keempat, bajaj jelas memberikan perlindungan terhadap panas dan hujan yang tidak diberikan kepada pengendara motor", lanjut Kokok.
"Alasan kelima nih, tapi lu jangan ketawa", kata Kokok selanjutnya. "Apa itu?" tanyaku. "Bajaj itu sebuah kendaraan mewah", kata Kokok. "Hah? Kok bisa?" tanyaku heran. "Iya, coba kau perhatikan, Bajaj itu sebenarnya sebuah cabriolet atau convertible. Dia kan aslinya gak ada atapnya, atapnya pakai kain jas hujan. Itu kan sama kayak sebuah sedan Mercy yang convertible, beratap terbuka, tapi bisa dipasang atap kain jas hujan", jelas Kokok. Aku tertawa dan berpikir. Masuk akal juga penjelasannya, ternyata bajaj adalah sebuah convertible walau mungkin aku yakin banyak konglomerat dan konglomelarat yang tidak terima dengan pernyataan itu.
"Terus negatifnya apa?", tanyaku. "Negatifnya nih, pertama adalah bahan pembuatannya. Bajaj itu dibuat dengan bahan kaleng krupuk sepertinya, ya mungkin ditambah dengan sedikit besi-besi dan seng-seng bekas. Makanya dia cepet keropos dan gampang penyok kalau ditabrak. Rodanya juga sepertnya mengambil dari bangkai vespa. Lampunya juga seperti terbuat dari lampu senter, makanya syarat jadi sopir bajaj itu penglihatan harus bagus, biar gak nabrak. Jendelanya pun bukan dari kaca, tapi dari plastik bening. Jadi kayaknya diambil dari barang-barang bekas yang dirangkai menjadi bajaj. Kedua, bajaj itu tingkat kenyamanannya rendah, kursinya gak ada empuk-empuknya. Keras banget jadi kalau jalannya kasar bakal membuat pantat keriting. Lalu masalah AC, bajaj pakainya buka 'Air Conditioner', tapi pakainya 'Angin Cendela'.Ya memang membuat kita menyatu dengan alam sih, tapi menyatu juga dengan polusi, debu, dan terik matahari. Kalau hujan ya siap-siap saja kebasahan dari samping. Ketiga, bentuknya sangat tidak artistik dan tidak sesuai dengan wajah kota Jakarta yang modern. Bajaj itu mengapa dicat warna oranye, itu sama sekali gak cocok dan sangat mencolok mata. Ya itu sebabnya, bajaj jadi gak perlu lampu karena kalau malam pasti kelihatan dari warna mencoloknya. Bentuknya juga rounded gak jelas gitu, gak aerodinamis dan kurang memberikan perlindungan bagi penumpangnya. Yang keempat, penumpang bajaj harus siap mendengarkan polusi suara. Suara bajaj sangat berisik. Dari radius 1 km saja sudah terdengar suaranya saking berisiknya. Dan yang terakhr nih, mesin bajaj tidak ramah lingkungan, asap yang dikeluarkan hitam pekat bagaikan smoke grenade. Itu bisa jadi senjata supaya bajaj tidak terkejar sih, kan jadi terkamuflase".
Aku tertawa mendengar penjelasannya. "Makanya, harusnya pemilik bajaj itu meremajakan bajaj-bajajnya. Bentuknya harusnya lebih bagus, lebih aero dinamis, lebih modern, dan lebih manusiawi. Tingkat kenyamanannya ditingkatkan, bila perlu diberi pendingin ruangan. Mesin dibuat ramah lingkungan dan tidak berisik. Lampu dibuat yang terang dan sebaiknya bajaj juga diberi fitur-fitur keselamatan penumpang. Kalau bajaj bentuknya menarik hati, nyaman, kemudian membuat penumpang merasa aman, yakin deh, orang-orang bakal beramai-ramai naik bajaj. Bahkan pamor bajaj bisa meningkat menjadi sebuah kendaraan keluarga. Makanya gue setuju dengan bajaj BBG itu, itu sudah suatu kemajuan, sebaiknya terus ditingkatkan lagi perbaikan bajaj kedepan", ide gila dari Kokok. Aku tertawa semakin keras.
"Jangan ketawa aja lu, nyetir yang bener, entar nabrak gimana?" ingat Kokok. Belum sempat peringatan itu kuhiraukan, sesosok bajaj oranye tiba-tiba ngebut disebelahku, mengagetkanku, dan hampir menyerempet. Skuter pun jadi oleng dan dengan sempurna tersungkurlah aku dan Kokok karena menabrak trotoar akibat menghindari bajaj. Damn, dan aku pun berteriak "Awas ada bajaj!!!"



